Wisata Jiwa di Gerbang Malang - et cetera

Thursday, July 18, 2019

Wisata Jiwa di Gerbang Malang

sumber gambar: http://www.batumalang.com/museum-kesehatan-jiwa/


Lawang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang. Lawang dalam bahasa Jawa artinya pintu. Kecamatan ini dinamakan Lawang karena dulunya jadi  gerbang masuk ke kerajaan Singhasari atau sekarang dikenal sebagai Kecamatan Singosari. Lawang kini dikenal sebagai tempat wisata, tempat rehat sejenak sebelum melaju kembali ke Malang atau Surabaya, tempat belanja oleh-oleh di Pasar Lawang (yang terbakar hampir dua pertiga bangunan pasar, kemarin Rabu, 17 April 2019), dan rumah sakit jiwanya.

Dr. Radjiman Wediodiningrat
yang namanya jadi nama RSJ dok. pribadi
Ketika pindah ke Lawang, tempat yang menarik perhatian saya adalah sebuah museum kecil di Desa Sumberporong yang seperti biasa, sepi mamring. Kebetulan tempat tinggal saya melewati RSJ, jadi tentu saja hampir tiap hari melewati museum ini. Terletak di tepi jalan di seberang Rumah Sakit Jiwa Lawang, museum ini dinamakan Museum Kesehatan Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat. Isi museum khusus tentang segala hal yang berkaitan dengan pengobatan dan perawatan pasien dengan gangguan kejiwaan.  

Museum ini adalah bagian dari Rumah Sakit Jiwa dr. Radjiman Wedyodiningrat. Lokasinya berseberangan dari gedung utama bangunan RSJ (rumah sakit jiwa). Alamatnya di Jalan Ahmad Yani No. 1 Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Sangat mudah untuk menemukan museum ini. Patokannya gedung RSJ.

Jika ingin menuju ke museum ini dari Surabaya bisa menggunakan kendaraan pribadi mengarah ke Malang. Ketika sudah melewati Kebun raya Purwodadi waktunya untuk bersiap-siap. Sesudah kebun raya, di kiri jalan Sahabat akan menemukan restoran Bakpao Telo di kiri jalan tepat sebelum jembatan layang. Masuk saja ke jalan kecil tepat di sebelahnya lalu terus meluncur ke arah timur. Museum ini terletak id sebelah kanan jalan bersebelahan dengan bangunan TK sebelum gerbang gapura RSJ.

Jika menggunakan kendaraan umum bisa naik bus jurusan Malang dan minta turun di Simping atau Bakpao Telo. Berjalan sedikit ada pangkalan ojek. Naik ojek dari ujung jalan ke museum cukup 5000 rupiah saja. Atau jika bus tidak mau berhenti di SImping, karena jalan menanjak, maka turun saja di Pasar Lawang dan lanjutkan dengan menumpang ojek di sana. Jika ingin naik GOJEK atau GRAb harus berjalan menjauhi pasar ya karena sekitar Pasar Lawang ada larangan ojek online mengambil penumpang. 

catatan pasien RSJ dok.pribadi
Siapa sangka RSJ ternyata sudah berumur seabad lebih. Pemerintah Belanda sendiri mulai membangun rumah sakit untuk penyandang gangguan mental dalam masa penjajahannya di Indonesia, yaitu di tahun 1824 di Jakarta. Untuk merawat bangsa Eropa yang mengalami gangguan mental, pemerintah kolonial merawat pasiendi rumah sakit militer di Jakarta, Semarang, dan Surabaya sejak tahun 1831. Lalu sejak tanggal 23 Juni 1902 RSJ di Sumber Porong, Lawang didirikan.

Ketika memasuki museum, suasana sepi seperti umumnya museum lain yang pernah saya datangi selalu menyambut pengunjung. Yang menyenangkan adalah ketika saya berkunjung walaupun hanya berdua dengan suami, ada petugas museum yang langsung mendatangi dan menjelaskan berbagai hal tentang benda-benda koleksi museum. Saya menghabiskan waktu kurang lebih hampir satu jam. Memasuki ruang demi ruang yang berisi klasifikasi barang-barang koleksi museum dengan tetap didampingi oleh petugas museum yang selalu menjelaskan bagaimana koleksi itu didapat, cerita menarik dari barang-barang koleksi dan sebagainya.

Aneka koleksi menarik yang berkaitan dengan perawatan pasien dan kegiatan sehari-hari RSJ ada di museum ini. Ada lonceng raksasa yang dulu dibunyikan sebagai penanda waktu makan bagi pasien, meja pimpinan yang usianya sudah lebih dari 100 tahun tapi tetap terawat, foto direktur pertama sampai sekarang, peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengobatan, rekam medis jadul dengan deskripsi kasus dan pasien yang sederhana, alat pasung yang masih dipakai orang awam dengan keluarga penyandang gangguan mental, mesin operator telepon jadul dan banyak lainnya.

alat pembasuh luka dok.pribadi

Salah satu koleksi yang paling banyak menimbulkan tanda tanya adalah koleksi pisau pengiris otak. Tidak ada keterangan bagaimana cara penggunaan pisau ini dan otak siapa yang diiris-iris, apakah otak pasien atau lainnya. Koleksi lain yang menantang adalah koleksi janin dalam toples. Tidak diketahui janin siapa itu, tapi koleksi ini menjadi upaya untuk menunjukkan bagaimana dulu dilakukan penelitian tentang kesehatan manusia kemudian menjadi pijakan bagi ilmu kedokteran saat ini.  Ada juga proyektor film yang ukurannya luar biasa besar  di sini. Nonton film adalah salah satu kegiatan penyembuhan secara rekreatif yang dianggap mampu menyembuhkan pasien gangguan mental.


 
Dari beberapa ulasan yang saya baca tentang museum kesehatan jiwa kebanyakan membahas tentang koleksi-koleksi yang cukup “horor” untuk orang awam. Misalnya koleksi janin yang diawetkan. Salah satu alasan mengapa saya tidak segera berkunjung kesana adalah karena ada sedikit ketakutan dengan hal-hal yang ngeri (versi saya).   Suasana yang terbayang di pikiran saya waktu itu adalah sedikit horor, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Bangunan sangat bersih, cahaya masuk banyak jadi terang dan tidak pengap, tidak ada aura-aura aneh di sana.

Hal yang menarik bagi saya adalah ketika saya melihat hasil karya pasien dengan gangguan mental. Beberapa hasil karya dipajang di bagian bangunan paling belakang. Aneka Karya lukisan dari pasienmenjadi sarana untuk menuangkan isi pikiran dan sebagai bentuk perasaan jiwa. Misalnya salah satu lukisan berbentuk sandal dan bukan hanya satu sandal tetapi dua sandal, keduanya sandal sebelah kiri. Lukisan ini dibuat oleh pasien mempunyai penyimpangan seksual, dia adalah penyuka sesama jenis dan buatnya ia menggambarkan hidup dengan pasangannya, serupa seperti sandal yang selalu berpasangan.

hasil lukisan pasien RSJ dok.pribadi

Mengunjungi museum ini bisa menambah pemahaman tentang RSJ, perawatan pasien dengan gangguan mental, dan juga tentunya wisata sejarah. Di museum ini kita diperkenankan untuk mengambil gambar di dalam ruangan museum. Museum buka hari Senin sampai Jumat mulai jam 08:00 – 15:00 dan gratis. Tertarik untuk berkunjung ke museum ini? Bisa juga mengajak buah hati kita di libur sekolah mendatang loh. Sempatkan waktu di hari dan jam kerja museum ya.



Tulisan ini sudah saya sunting ulang. Postingan saya dengan judul yang sama pernah dipublikasikan di blog literaksiriview

1 comment