Curhat Tentang Si Bebek, Kemana Harus Dicari? - et cetera

Tuesday, August 3, 2021

Curhat Tentang Si Bebek, Kemana Harus Dicari?

Warung nasi bebek adalah salah satu yang sangat banyak dijumpai di Surabaya selain warung penyetan (nasi dan sambal pedas dengan aneka lauk pauk gorengan). Karena saya lama tinggal di Surabaya, maka saya termasuk pencinta bebek goreng. Bisa dibilang dalam seminggu minimal sekali menyantapnya. 

Dulu, waktu saya tinggal di daerah Manukan, Tandes, Surabaya, warung bebek yang terkenal macam Bebek Bang Arif jaraknya hanya sekitar 400 meter dari tempat saya tinggal. Ada juga warung bebek Bang Sori yang jaraknya hanya selemparan batu dari tempat saya kerja. Ini warung favorit saya, dekat dengan SMP Brawijaya. Penjualnya orang Madura dan saya sudah jadi langganan sejak rasanya masih biasa saja cenderung sedikit amis waktu itu (tidak ada pilihan warung yang dekat) sampai bertransformasi jadi enak banget. Dari penjualnya masih belum punya anak sampai anaknya kelas 3 SD kalo tidak salah.

Di pagi hari pun penjual nasi bebek sangat mudah ditemukan. Satu yang laris manis adalah di dekat masjid dekat UFO Supermarket atau yang sekarang jadi Superindo. Bebeknya murah, buka jualan jam 7 pagi dengan gerobak beroda. Malam hari malah makin banyak penjual bebek di sepanjang jalan Manukan Dalam, Manukan Tama, Manukan Krajan, Manukan Tengah dan lainnya. 

Ketika menikah dan pindah ke Lawang, Kab. Malang mulailah krisis bebek goreng dalam menu makan saya. Warung bebek goreng a la Madura ada 2 dan keduanya diberi merk Bebek Goreng Purnama yang rasanya jauh sekali dibanding bebek yang menurut saya biasa saja di Surabaya.

Kunci nasi bebek menurut saya ada di sambalnya. Sejauh ini kalo ungkepan bebek yaaa walau a la kadarnya jika sambalnya oke maka nilai masih 7,5. Tapi jika sambal rasa biasa, bumbu hitam tak gurih, serundeng pelengkap tak ada, atau kalopun ada rasanya hambar maka maaf saja skor 5 dari saya. 

Catatan saya tentang nasi bebek di Lawang juga buruk. Pertama kali beli di dekat RSUD Lawang. Harganya membuat saya "kenyang". Tanpa nasi seporsinya 20 ribu. Saya semaoat berpikir mungkin salah hitung, tapi jelas-jelas penjualnya menyebut bebek dua porsi. Padahal harga di Manukan saat itu masih sekitar 14ribu. 

Kedua warung nasi bebek merk Purnama harganya sekitar 15-16ribu saat itu, sekitar tahun 2018-2019. Saya jarang membeli. Mungkin 2 atau 3 bulan sekali atau dua kali. Hebatnya, semua warung bebek di Lawang dan Singosari yang bertebaran di jalan utama selalu merknya Bebek Purnama Cabang Surabaya. Saya sendiri kurang tahu di mana di Surabaya ada warung bebek Purnama. Hasil Googling bebek Purnama asli di daerah Dinoyo, tapi saya kurang mengenalnya. Teman-teman pun tidak ada yang merekomendasikannya. Setahu saya yang terkenal adalah Bebek Cak Yudi, Bebek Tugu Pahlawan, Bebek Kayu Tangan, Bebek Karang Empat, Bebek Palupi, Bebek Papin, Bebek Pak Qomar dan banyak lainnya. Dari yang saya sebut ini hanya Bebek Palupi dan Bebek Papin yang belum pernah saya coba. 

Jika bosan dengan yang sudah pernah dicoba, atau malas membeli karena jarak, maka banyak bebek gerobak sepeda yang bisa dibeli. Penyetan tempe, tahu, telurnya juga biasanya lumayan lah (walau minyaknya hitam.hiks). Tapi di Lawang, waduh warung penyetan, di sini disebut lalapan, saja susah dicari apalagi warung nasi bebek. Nasib...yaaa nasib....

Minggu lalu saya ngidam bebek goreng. Pokoknya pengen makan malam dengan bebek. Hasil pencarian se kecamatan tidak membuahkan hasil. Entah mengapa semua cabang Purnama (yang mengaku cabang bebek Purnama Surabaya), tutup. Warung lain, bahkan semacam lalapan pun bersih dari jalanan. Bisa jadi efek PPKM Darurat. Akhirnya saya kembali ke arah rumah, dan Alhamdulillah menemukan warung lalapan yang menjual belut, bebek dan ayam bakar. 

Bebek ada, sambal pedas, harga tanpa nasi 16ribu. Ukuran bebek tidak terlalu besar, penyajian untuk dibungkus lumayan, lalapan mentimun, kacang panjang, kubis. dan daun kemangi fresh yaa lumayanlah untuk obat kangen. Layaknya orang ngidam, saya habiskan sisa nasi di dandang untuk sepotong bebek goreng tersebut. MasyaAllah nikmatnya. Jikalau pengen dan keturutan, segala sesuatunya menjadi indah. 

Dalam perjalanan pencarian bebek bersama suami, saya terheran-heran mengapa makanan ini tidak populer di Lawang dan sekitarnya. Menu sambelan macam sego sambel, tempe penyet dan sejenisnya pun hampir tidak ada. Seentara di Surabaya, nasi dan sambel dengan aneka lauk seperti makanan wajib. Pagi, siang, sore, sampai larut malam disantap oleh berbahai usia. 

Bahkan di Lawang, bebek umumnya dimasak rica-rica. Menu yang sangat tidak "njawani". Saya malah beberapa kali menemukan penjual bebek rica-rica di Lawang. Wah, benar-benar jarak 1,5 jam dari Surabaya sudah mengubah peta keanekaragaman kuliner. 

Kabari saya di kolom komentar jika Sahabat punya rekomendasi warung nasi bebek yang aduhai nikmatnya di kota tempat Sahabat tinggal ya? Siapa tahu suatu saat saya bisa mencicipi cita rasa nasi bebek yang yummy dari kota Sahabat. 

2 comments

  1. Bang Arif lauk doang tanpa nasi sekarang 25 ribu. Uda lama gak ke bang Sori gak tau harganya. Bebek dua putri rekomendasi mba Niar itu 20 ribu pake nasi. Enak. Sambal 2 macam, merah dan ijo da bumbu hitam.
    Cabang purnama itu enak dan terkenal miss di Dinoyo deket rumah Suami. Cuma yang asli tulisannya tidak buka cabang. Palupi itu enak juga, tp mahal. Uda 18 ribu satu porsi tanpa nasi di jaman 2017an. Banyak bgt warung bebek di Surabaya yang enak miss, apalagi setelah di up sama koko buncit atau surabaya kuliner di IG.

    ReplyDelete
  2. Nah itu, kalo dibandingin di sini yang 20rb tahun 2018 rasane ngunu wae ya rugi duong 😬. FYI di sini semua warung bebek cabang Purnama hahaha. Yang deket rumah PD tanpa tulisan cabang sono sini.

    Trims untuk info tambahannya Tante Shinta ❤️

    ReplyDelete