Jihan Mawaddah, Menulis Atau Habis Terkikis - et cetera

Sunday, July 25, 2021

Jihan Mawaddah, Menulis Atau Habis Terkikis

 “Laa Tash-hab Man Laa Yunhidluka Haaluhu.

Wa Laa Yadulluka ‘Alallaahi Maqooluhu"

-Ibnu ‘Athoillah-

Janganlah berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraannya tidak membimbingmu ke jalan Allah”


Teman Pembangkit Semangat

Sengaja saya menukil pesan dari KH. Hasyim Muzadi, kiranya pesan ini tepat untuk menggambarkan betapa sosok Mbak Ji (Jihan Mawaddah) adalah seorang penyemangat bagi saya untuk rajin menulis. Menulis? Ya, sejak mengenal sosoknya saya semakin keranjingan menulis walau sering kali niat tak berbanding lurus dengan akibat (niatnya nulis, kebanyakan alasan jadi malas).

Pertemuan saya dimulai saat mengikuti komunitas One Week One Book. Komunitas online ini bertujuan meningkatkan semangat baca anggotanya dengan menantang menyelesaikan membaca 1 buku dalam 1 minggu. Saya ingat hanya sekali berhasil mendapatkan sertifikat sudah rajin membaca buku seminggu sekali. Admin yang merekap kerajinan anggotanya saat itu adalah Mbak Jihan Mawaddah (selanjutnya saya sebut Mbak Ji). 

Suatu saat beliau memposting sebuah kegiatan menulis yang diselenggarakan oleh platform menulis online IDNTimes.com. Kegiatan seminar yang digagas bareng oleh IDN Times dan Kominfo saat itu membahas tentang stunting dan seluk beluk menulis di media online IDNTimes. Itu adalah kali pertama saya berkesempatan bertemu muka dengan Mbak Ji, dan saya tidak banyak bercakap dengan beliau juga.

Berkat Beliau, saya berkesempatan memenangkan kontes menulis dari IDN Times, saya dan tentu saja Mbak Ji adalah 2 dari 3 orang pemenang yang beruntung. Rasanya senang sekali tulisan saya bisa dimuat dan mendapat hadiah pula. Sejak saat itu saya banyak menyimak kiprah Mbak Ji di bidang literasi.

Hubungan pertemanan kami yang sudah berlangsung 3 tahun lebih ini juga membuat saya makin mengagumi sosok Mbak Ji. Beliau sangat aktif menulis, mengikuti aneka lomba blog (dan hampir selalu menang), serta punya kecintaan yang cukup tinggi terhadap dunia literasi. 

Karena beliau, saya selalu ingin bisa banyak menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Mbak Ji menjadi penyemangat saya dalam menulis.

Menulis atau Habis Terkikis

Pernah saya tanyakan apa pentingnya menulis untuk beliau?
"Aku tuh kalo ga nulis sehari rasanya stres Mbak. Menulis itu sudah seperti kewajiban. Aku harus selalu nulis, kecuali bepergian, baru ga bisa nulis. Salah satu rekreasiku itu menulis. Menulis itu menstabilkan kejiwaanku, me time ku itu menulis Mbak. Jadi nulis itu ya puenting buanget." demikian jawaban Mbak Ji. 

Wow. Menulis memang punya banyak sekali manfaat, dan ketika seseorang sudah terbiasa menulis seperti Mbak Ji, ternyata membuat hati senang tak perlu dilakukan dengan biaya mahal. Sebaliknya, Mbak Ji mendulang pundi-pundi uang dari kegiatannya. Ini adalah salah satu contoh nyata bagi saya betapa positif kegiatan menulis ini dan terbukti sangat membantu terutama di masa pandemi ini. 

Mbak Ji adalah seorang blogger aktif. Beliau rajin mengisi beberapa blog di antaranya: 
https://jeyjingga.com/
https://kelasbiologi.net/
https://jendelacaca.my.id/
https://www.caravanjingga.my.id/
https://kapancurhat.com/

Selain aktif sebagai blogger, beliau juga telah rampung menulis buku yang proyeknya dikerjakan di awal 2020 - pertengahan 2021. Setelah proyek ini selesai beliau mengkhususkan diri untuk menulis di platform blog.

Sebagai catatan, buku yang ditulis oleh Mbak Ji adalah novel biografi yang menceritakan tentang kisah hidup ayahanda beliau. Biografi ini dihadiahkan beliau untuk memperingati hari lahir ayahanda. Hal yang sangat membanggakan, padahal saya hanya salah satu pembaca. Novel biografi ini laris manis, direkomendasikan oleh banyak tokoh besar Jawa Timur dan diapresiasi oleh tokoh-tokoh hebat lainnya. 

Satu pelajaran penting yang tak akan saya lupakan adalah bagaimana novel biografi ini telah mengajak saya untuk rajin mengaji. Ya, dari membaca buku ini seakan saya mendapat hidayah untuk lebih banyak mengaji, Mbak Ji telah mengajak saya ke jalan Allah. Semoga Allah selalu merahmati beliau.

Kok Bisa Ya Ada Waktu Untuk Menulis?

Ini adalah pertanyaan yang selalu saya miliki untuk beliau. Beliau adalah ibu rumah tangga dengan seorang putri berusia hampir 3 tahun. Beliau juga menjadi penyuluh agama di Kementerian Agama spesialisasi Narkoba yang biasanya memberikan penyuluhan sekali sampai empat kali dalam seminggu. Melebihi saya, ibu rumah tangga yang full ada di rumah untuk mengurus aneka kegiatan rumahan, Mbak Ji tentu lebih sibuk. Hebatnya beliau selalu punya waktu untuk menulis.

Target menulis harian Mbak Ji adalah menulis minimal 500 kata yang dituangkan di blog beliau. Ini adalah tabungan masa depan, karena beliau berencana untuk resign suatu saat dari pekerjaan dan menjadi full time blogger

Selain kegiatan menulis, tentu ada kegiatan lain yang dilakoni Mbak Ji untuk mendukung kemampuan menulisnya, tak lain adalah kegiatan membaca. Ya, beliau juga selalu menyempatkan diri untuk membaca. Tak heran, skill menulis beliau ciamik

Intinya beliau mencontohkan untuk menjadi seorang penulis produktif selalu harus menyediakan waktu dan berdisiplin. Ketika menulsi adalah sebuah kebutuhan, maka akan selalu ada waktu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menyediakan waktu di malam hari ketika si kecil sudah tidur adalah salah satu waktu yang pas bagi beliau. Selebihnya, di manapun dan kapanpun ada kesempatan, beliau akan menulis dan membaca.

Beliau bertutur salah satu prinsip yang dipegang teguh adalah tidak membuang waktu, tidak menunda pekerjaan. Setiap waktu yang diberikan Allah adalah hal yang amat sangat berharga yang tidak bisa disia-siakan, penyesalan selalu datang terlambat.

Produktif dan Bermanfaat Bagi Orang Lain

Ini adalah prinsip hidup yang dipegang Mbak Ji. Awalnya, Mbak Ji menetapkan sebuah prinsip hidup untuk sukses sebelum usia 30 tahun. Kesuksesan itu relatif, dan beliau pun merasakan betapa hidup tak statis. Ia dinamis dan selalu berubah. Menginjak usia 30 tahun, Mbak Ji yang anak ketiga dari 7 bersaudara ini memutuskan prinsip hidupnya adalah menjadi manusia produktif yang berguna bagi banyak orang.

MasyaAllah, semoga Mbak Ji bisa merasakan betapa produktivitas beliau sudah menginspirasi saya. Terasa kehadiran beliau bermanfaat untuk saya, dan semoga juga bisa membawa faedah bagi Sahabat. 

Pelajaran Hidup Untuk Sahabat

Tahukah Sahabat bahwa kisah sukses Mbak Ji dan teladan yang ditunjukkan beliau ternyata tak sekadar bekerja keras, disiplin, dan produktif? Beliau juga mengalami ujian maha berat yang mungkin tidak bisa dilewati oleh semua orang.

Mbak Ji menggambarkannya sebagai "tercerabutnya jiwa dari raga". Setelah menikah beliau diuji dengan myoma uteri yang terletak persis di dalam rahim. Pada kasus Mbak Ji, kemungkinan terburuk yang beliau hadapi adalah operasi pengangkatan rahim. Coba jika Sahabat, seorang wanita, berada di posisi tersebut. Bagaimana kalutnya perasaan tidak lagi punya rahim, tidak bisa berketurunan. Tentu sedih kan? 

Toh Allah berkehendak, manusia mengikuti kehendak-Nya dan berupaya untuk tetap hidup sebaik-baiknya. Antara tahun 2014-2015 secara medis Mbak Ji dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan. Qadarullah. Berat kan ujian yang dihadapi beliau?

Sahabat, mungkin kita hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa tahu terjalnya perjuangan yang mereka lakukan. Bisa jadi kita hanya kagum tapi tak mengubah diri untuk ikut berjuang keras agar apa yang orang lain capai juga bisa kita capai. Mbak Ji telah menunjukkan bahwa dalam keadaan terburuk pun beliau bisa selalu produktif dan tidak terjerembab ke sebuah kesedihan.

Beliau ingin menyadarkan Sahabat bahwa ada banyak hal yang patut kita syukuri. Ada banyak waktu yang sudah dianugerahkan Allah untuk kita pergunakan sebaik mungkin. Hal penting lainnya adalah, jika sudah dikaruniai buah hati, jaga amanah dari Allah sebaik-baiknya. Anak adalah rezeki, titipan Allah yang wajib dijaga, segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan pada akhirnya.

Sapa dan ikuti jejak Mbak Ji di :
Instagram @jihanmw
Twitter @damzelhan
Facebook Jihan Mawaddah