Gara-gara Klenyem! - et cetera

Monday, May 4, 2020

Gara-gara Klenyem!

Postingan ini mengandung perdebatan yang tidak perlu dan membutuhkan kebesaran hati untuk menerima silang pendapat atas sebuah kudapan yang bernama klenyem. Ya, saya bahas tentang makanan, bukan tentang panasnya situasi dan cuaca di kala pandemik.

1. Klenyem

photo credit: https://bit.ly/2Yyj26s

Suatu hari ketika saya berkunjung ke urmah mertua saya, di meja makan dihidangkan sepiring besar gorengan aneka rupa yang dibeli oleh ipar saya. Perhatian saya tertujua pada kudapan lonjong ginuk-ginuk alias gembul. Spontan saya bilang,"Itu jemblem ya/" (jem-blem diucapkan -> huruf E pada JEM seperti pengucapan e pada kata Jerman, dan e pada kata BLEM seperti hurf E pada kata emas)

Ipar lalu bilang, "Bukan Bu, itu klenyem."
"Klenyem itu apa?" tanya saya.
"Pohong (singkong) diparut, diberi gula merah lalu digoreng." jawab ipar.
"Lho itu jemblem kalo di tempatku (Mojokerto-Surabaya) Mbak." pungkas saya.
"Jemblem itu ada lagi, beda. Itu singkong yang direbus, lalu dihaluskan, lalu digoreng. Kalo ini ya namanya klenyem."

Kurang lebih itu isi percakapan saya dengan ipar. Ibu mertua pun datang dan memberikan pendapat bahwa yang saya sebut jemblem itu klenyem, jemblem adalah "spesies kudapan" yang berbeda. Uniknya, bapak mertua yang asli orang Lamongan dengan santai menyebut si klenyem sebagai jemblem, sama dengan saya.

Mertua dan ipar saya asli Lawang, Kab. Malang. Rupanya klenyem adalah the real jemblem kalo versi Lawang sih. Sementara definisi jemblem versi warga Lawang, Malang adalah singkong yang dikukus, ditumbuk, lalu digoreng. Mirip gethuk tapi digoreng.

Perdebatan tentang klenyem ini membawa saya Googling untuk mencari tahu sebenarnya apakah klenyem itu? Dari sebuah blog saya menemukan fakta bahwa penyebutan klenyem untuk jemblem diberikan oleh warga Solo, Jawa Tengah. Sementara nama lain jemblem adalah misro, jotosan, krando, entho cothot dan entah nama lain apa dari jajanan sederhana berbahan dasar singkong ini.

2. Bladus

Photo credit : tagar.id 

Oke, ini adalah nama jajanan yang asli membuat saya kebingungan. Awalnya saya pikir bladus adalah brondong jagung. Karena cocoknya begitu saja he he. Ini juga istilah yang dikenal teman saya yang orang Lawang asli (lagi).

Suatu hari teman saya pergi ke pasar dan menemukan jajanan yang katanya persis deskripsi dari jajanan jadul yang sudah lama belum saya makan. Saya menyebutnya BLENDUNG.

Blendung adalah pipilan biji jagung yang direbus sampai mekar dan pecah (mblendung, alias buncit kalo versi Jawa). Kalo ga salah sih sebelum direbus biji jagung direndam dalam air kapur dulu agar bisa merekah cantik. 

Setelah matang direbus jagung lalu diberi sedikit garam, dan diurapi alias ditaburi lalu diaduk-aduk dengan parutan kelapa. Favori saya sih diberi sedikit gula pasir.

Versi Lawang? Sleain disebut Bladus penyajiannya diberi gula merah cair (kicir). Kalo ga mau sih bisa skip. Padahal seumur-umur saya bertualang dari Mojokerto, Kediri, sampai Surabaya orang menyebut jajanan ini blendung dan ga ada yang dikasi kicir tuh. 


3. Ucet

photo credit: https://bit.ly/3c4qIkK


Sejak saya kecil sampai sekarang usia mendekati 40 tahun (Oh Lord), saya tidak pernah mendengar satu orang pun menyebut kata UCET. Dan tahukah Sahabat apa itu ucet? Ternyata ucet itu buncis.
Eh la dalah. 

Mertua saya selalu menyebut nama ucet berulang kali sampai kata ini terdengar sangat geli di kuping saya. Apa karena bahasa Jawanya buncis itu ucet ya? Soalnya kalo saya ke pasar dari dulu sih orang melafalkan buncis dalam bahasa Jawa menjadi BONCES (bon dibaca seperti kata bone dalam bahasa Inggris, dan ces dibaca sepeti kata chase dalam bahasa Inggris). He he...saya bikin tambah puyeng kan?

Menarik sekali bagaimana nama suatu jajanan atau sayuran bisa sangat berbeda dari wilayah yang berjarak hanya 1,5 jam saja satu sama lain. Tapi, hal ini masih wajar mengingat saya yakin daerah lain yang berdekatan malah bisa jadi punya istilah penamaan yang sangat jauh berbeda.


4. Mendol

Photo credit" https://bit.ly/2zb4mPX

Oke, untuk istilah ini tidak terlalu asing bagi saya karena saya cukup familiar. Saya dan lingkungan saya tinggal di Mojokerto waktu kecil dulu mengenalnya dengan nama MENJENG (dilafalkan persis seperti kata "mejeng" dengan sisipan huruf N).

Mendol adalah tempe yang dihaluskan bersama bumbu-bumbu, cita rasa khasnya adalah dengan daun jeruk, lalu dikepal-kepal sangat kecil dan kemudian digoreng. Anehnya di Lawang rasa mendol sangat mengganggu buat saya. Sepertinya tempe yang digunakan bukan tempe fresh tetapi tempe semangit alias tempe yang agak lama, jadi ada taste yang menyengat.

Saya masih ingat betul, mendol adalah salah satu lauk favorit saya waktu kecil dulu. Tapi mendol-mendol di Lawang benar-benar tidak enak buat saya. Ukurannya juga jauh lebih kecil dibanding dengan ukuran mendol di masa lalu saya. 

Yang paling aneh buat saya ya di hampir semua masakan diberi mendol. Ini seperti condiment wajib. Mendol bisa ditemukan di pecel, nasi jagung, rawon, urap-urap, dan aneka jenis hidangan lain yang menurut penjual wajib "dimendolin"

Ini masih sedikit hal menarik tentang perbedaan budaya dan kebiasaan menyebut aneka jenis makanan. Pengalaman saya tinggal di kecamatan Lawang, pinggir Kabupaten Malang ini sungguh menambah khasanah perbendaharaan makanan saya. Makan teroooos. 

2 comments

  1. Wakwakwak..ada lagi ote-ote is weci, dadar jagung is bakwan..pernah kecelek pas (alm) mbahku bilang.."iku ng mejo onok bkwan,nduk" senangnya aq makan bakso dong..daannn tadaaaa, yg ada d meja adalah si darja, kecewanya diriku hahaha, pdhl d jatim bagian mjk dan sekitarnya bakwan kan bakso yaa πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, kita sama. Ketipu soal Bakwan. WOng Kediri ngarani bakwan dong buat dadar jagung. Aku yo semangat lah...makan bakwan, kucari-cari tak ada. Ha ha ha.
      Iyo lah Bakwan kuwi bakso. Di sby juga bilange dadar jagung

      Delete