6 Alasan Berhenti Nonton Drama Korea (dan Pindah ke Drama China) - et cetera

Saturday, November 14, 2020

6 Alasan Berhenti Nonton Drama Korea (dan Pindah ke Drama China)



Sudah bertahun-tahun saya nonton drama Korea dan terhisap dalam romantisme plus keseruan dramanya. Sesuka-sukanya nonton K-Drama (drama Korea) pasti akan bosan juga. Ini momen yang sedang saya alami. Awalnya saya merasa bosan nonton K-drama yang gaya dramanya sudah hafal (karena sudah nonton puluhan judul). Tapi saya selalu menghindari drama China, awalnya karena saya kurang nyaman mendengar intonasi bahasa mandarin, murni karena belum terbiasa. Lama-lama saya memutuskan stop nonton K-drama deh. Dan ini alasannya.

1. Spoiler Tipis-tipis

Tahu kan Sahabat, apa arti kata spoiler? Nah spoiler itu artinya bocoran. Kalo di antara penggemar serial drama atau serial apapun pasti paling males kalo dikasih spoiler, karena tar kalo udah ketebak ceritanya jadi ga seru lagi. 

Kalo di C-Drama spoiler inimuncul dalam bentuk adegan di theme song awal. Jadi sebetulnya, penonton sudha diberi tahu bagaimana jalan cerita di drama itu. Walau endingnya tak diperlihatkan sih. Nah, durasi theme song yang biasanya 2 menit ini cukup panjang. Tapi dari durasi ini kita tahu runutan cerita, atau gambaran umum tentang kisah tokoh.

Uniknya, walau saya sebagai penonton tahu nanti A akan bagaimana hubungannya dengan B, tapi ceritanya tetap seru untuk diikuti loh. Spoiler tipis-tipis ini masih tetap bikin smenagat nonton dan cerita asyik ditonton. Aneh tapi nyata!

2. Drama Tanpa Ngoyo

Pada serial drama favorit saya (yang genre-nya historis, action romance, romance, dan thriller romance) biasanya kalo nonton versi Korea alias di K-Drama selalu intensitas konflik dan ketegangan dibikin nyata dan ngena tiap episode. Sering saya menemukan drama yang intensitas tegangnya kebawa terus tiap episode. Ibarat orang lari, sebelum nonton sampai habis ga bakalan bisa berhenti. Otomatis "terengah-engah" di semua episode. 

Cerita seperti Arang and The Magistrate, The Innocent Man, Tunnel, dan lain sebagainya memang seru di setiap episode. Jadi kerasa tegangnya tuh setiap episode. Nah C-Drama adalah kebalikannya. Dari beberapa drama berbagai genre yang saya tonton, intensitas ketegangan terasa cukup, atau jika dibandingkan dengan K-Drama bisa dibilang kalah. Tapi, semua episodenya seru untuk diikuti. 

Menurut saya ini suatu keunggulan. Pembuat film tidak menciptakan tensi ketegangan yang selalu di puncak, tapi penonton diajak untuk ikut alur dan dibawa ke ujung cerita. Jadi, nonton C- Drama intinya adalah, ga perlu ngos-ngosan he he.

3. Sinematografi dan Animasi Jempolan

China memang sudah diakui keunggulannya dalam kedua hal ini. Keunggulan film-film China sudah banyak diakui oleh kritikus dunia. C-Drama pun unggul dalam kedua hal ini menurut saya. 

Sinematografi diartikan sebagai seni fotografi untuk gambar bergerak dan perfilman lewat sudut pengambilan gamar, filter kamera, penggunaan lensa, pencahayaan, dan lainnya. Banyak C-Drama yang sangat memperhatikan segi artistik dari film yang dihasilkan. Film seperti Mr. Fighting adalah salah satu yang menurut saya sinematografinya jempolan. Drama percintaan lain seperti Sweet Dreams diwarnai aneka bunga-bunga indah karena memang settingnya adalah di perusahaan bouquet bunga. Setting lokasinya jor-joran kerennya.

Kalau soal animasi, wah K-Drama menurut saya kalah jauh. Adegan-adegan a la dewa-dewi dan cerita khayangan melawan naga api dan lainnya sungguh sangat bagus. Walu "hanya" drama tapi animasinya keren.


4. Ekstravaganza Kostum Tradisional

Ketika nonton drama sejarah  atau yang tema tradisional pas ti mata bakal adem dan terpuaskan oleh kostum tokohnya yang luar biasa. Cantik, mewah, ekstravaganza lah pokoknya.

Berbanding terbalik dengan drama setting modern China yang mnurut saya kostumnya itu-itu saja. Dalam 40 episod bisa-bisa pemeran utama yang digambarkan kaya raya cuma punya 10 jenis baju. Ini beneran loh. Kalo di drakor, mau dia cuma perannya jadi pegawai magang toko tetep aja baju hariannya ganti terus tiap hari.

Tapi kalo masalah kostum tradisional, a la kerajaan gitu, drakor ga ada apa-apanya. Banyak sekali kostum cantik yang meah dan bagusnya kebangeten yang didesain sangat apik di drama China.


5. Aktor dan Aktris Rupawan

Setelah nonton K-Drama yang aktornya punya kemiripan hairstyle, lalu aktrisnya yang hampir semua dari satu jenis etnis, nonton C-Drama seperti melihat para dewa-dewi turun dari langit kebumi. Eh..lebay asli kan? He he.

Coba tengok artis turunan Uighur seperti Dilraba Dilmurat yang wajahnya separo bule dan China. Padahal ya, dia murni orang China, tapi dari Uighur yang moyangnya memang dari Eropa. Bintang lain seperti Leo Luo gantengnya natural aja. Ya intinya sih balik ke selera lah, Buat saya drama Tiongkok ini natural beauty bertebaran di mana-mana jadi ya....saya sih YES.

Oh ya, yang bikin senang juga dalam satu drama baik pemeran utama maupun pendukung, semuanya ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Jadi ga kebanting banget level rupawan antara aktor utama dan pembantu. Keren!


6. Kepuasan Maksimal

Karena episodenya panjang-panjang, jadi pas nonton drama Tiongkok ini, puas aja nonton acting bintang pujaan sampai 30 atau 40 episod. Kalo pas dramanya bagus banget malah kurang kok episode sepanjang itu. 

Jumlah episode yang panjang juga membuat cerita dibuat lebih natural. Masalah sehari-hari kan emang banyak. Jadi ya mengalir aja.

Walau banyak juga drama yang bagus di awal, membosankan di tengah, dan ga jelas endingnya, tapi banyak juga drama China yang sudah mendekati ending pun kita sebagai penonton masih ga ikhlas untuk berpisah. Ini yang sangat menarik.

Nah kalo Sahabat, sudah pernah nonton drama China kah? Sependapat ga? 😆